hello
yahoo
sahabat merupakan tempat curahan yang paling setia
Gagasan Pendidikan Berbasis Kewirausahaan;
Relevansi Pendidikan Dan Dunia Usaha
Oleh: Ferly Agussaputra
Penulis adalah Pemerhati Pendidikan.
Mahasiswa semester 6 jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Sumenep, sekaligus PJS Ketua HMJ PBSI STKIP PGRI Sumenep
Pendahuluan
Permasalahan pendidikan di Indonesia seolah-olah tiada habisnya untuk diperbincangkan. Lebih-lebih di Sumenep. Kompleksitas persoalan tersebut sepertinya menjadi PR besar yang sampai hari ini tidak pernah ada titik penyelesainya.
Masalah yang sering muncul dan hangat untuk diperbincangkan antara lain, sistem pendidikan, perubahan kurikulum, dan sertifikasi guru yang tidak minim konsep. Dan (mungkin) permasalahan lain yang kemudian menjadi literatur menilai pola gerak kemajuan pendidikan tanah air[1].
Relitas yang terjadi justru, secara tidak langsung peserta didik terlantarkan, mungkin lebih dari itu, proses pembelajaran menjadi tidak optimal bahkan berbuah menjadi sebuah egoitisme dari pada memberikan peluang arif kepada peserta didik. Yang justru sangat disayangkan penulis adalah para pemangku bidang pendidikan maupun pendidik sendiri yang condong dan terkoptasi oleh sistem pendidikan yang sejak pembentukannya memang banyak menuai kontroversi, akan tetapi paling tidak pendidik memberikan suatu inovasi baru, bagaimana pembelajaran bisa bermakna. Salah satu yang harus dilakukan adalah pembelajaran dalam dunia pendidikan dan kewirausahaan.
Pendidikan kewirausahaan memberikan pemanfaatan pengetahuan dan kemampuan bekal hidup di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat dan bernegara, sehingga belajar sambil bekerja menjadi sangat penting. Untuk itu proses pembelajaran ini harus memperhatikan keseimbangan faktor bawaan (minat, bakat, motivasi dan kempuan) dan faktor lingkungan (masyrakat dan pendidikan). Keselarasan antara faktor bawaan dan faktor lingkungan akan bisa membawa pencapaian tujuan pembelajaran seperti yang diharapkan oleh siswa sendiri. Karena guru memegang peran sebagai fasilitator, innovator, motivator bagi belajar siswa, maka proses belajar individual menjadi sangat penting dengan memilih metode pembelajaran yang mengarah pada penemuan kemampuan dan keterampilan sesuai dengan keinginan, minat, motivasi, dan bakat siswa. Sebaiknya proses pembelajaran tidak lagi berorientasi kepada selera sekolah atau guru. Penekanan evaluasi pada sikap dan keterampilan intelektual siswa, serta tidak lagi kepada pengetahuan teoritis. Pengumpulan pengetahuan teoritis yang berlebih tanpa ada maknanya bagi hidup, merupakan pekerjaan yang sia-sia. Disarankan perlu adanya perubahan yang mendasar dari visi dan misi pendidikan kejuruan dan profesi mengubah model dan sistem pembelajaran, dengan tidak berorientasi kepada pembentukan tukang Akan tetapi harus melebihi, yaitu menumbuhkan wirausahawan yang tangguh.
Dewasa ini, pendidikan kewirausahaan di Indonesia masih kurang memperoleh perhatian yang signifikan, baik oleh dunia pendidikan maupun masyarakat, apalagi di sumenep. Banyak pendidik (guru) yang kurang memperhatikan penumbuhan sikap dan perilaku kewirausahaan, baik di sekolah-sekolah kejuruan, maupun di pendidikan profesional.
Orientasi mereka, pada umumnya hanya pada menyiapkan tenaga kerja. Padahal, secara historis masyarakat kita memiliki sikap feodal yang diwarisi dari penjajah Belanda. Sebagian besar masyarakat kita mengharapkan output pendidikan mampu menjadi (sebagai) “pekerja[2] hebat” dan mampu mewarnai ruang lingkup kehidupan baik bermasyarakat maupun bernegara. Dalam artian, peta pembelajaran dan harapan output dari pendidikan bukan semata mengejar ijazah tanpa ada kemampuan (skill) yang bisa dipertaruhkan.
Diakui atau tidak, realitas menggambarkan bahwa pendidikan hari ini hanya berbicara dalam lingkup pragmatisme dan minim konsep. Maka tak berlebihan jika Ciputra salah seorang pendidik (dosen) program pascasarjana UGM, di Yogyakarta menyatakan;
“Dengan hati menangis, saya menyaksikan generasi muda terdidik bangsa Indonesia tidak memperoleh pekerjaan yang pantas dan dianggap rendah oleh bangsa-bangsa lain. Kepedihan itu ketika melihat kenyataan banyaknya surat lamaran yang masuk sebagai CPNS di lingkungan Pemprov DKI Jakarta pada Juni 2006. Ada sebanyak 39.622 pelamar yang berlomba mengisi 950 lowongan. Demikian pula ada sebanyak 110.000 pelamar mencoba untuk bisa mendapatkan kesempatan kerja di Trans TV dan Trans 7. Demikian pula ada seorang pegawai yang berinisial EHF dan bertitel Sarjana Nuklir yang karena di-PHK oleh PT Dirgantara Indonesia lantas berjualan es krim di Pusat Perbelanjaan Ramayana, Cimahi, Jawa Barat.”[3]
Terlepas dari konvigurasi di atas, tahun 2007 di Sumenep tercatat ± 300 siswa yang lulus UN mencapai 98 persen.[4] Anehnya mereka yang meneruskan ke Perguruan Tinggi (PT) lebih sedikit dibandingkan dengan yang tidak meneruskan Alasan mendasar dari mereka (yang tidak meneruskan) karena kekurangan biaya. Kalau di taksir mencapai ± 69 persen. Mereka setiap tahun menambah jumlah deretan pencari kerja, sementara bekal (skill) kesiapan kerja belum dimiliki.
Sebagai negara sedang berkembang, Indonesia termasuk masih kekurangan wirausahawan. Hal ini dapat dipahami, kerena kondisi pendidikan di Indonesia masih belum menunjang kebutuhan pembangunan sektor ekonomi. Bisa diperhatikan, hampir seluruh sekolah (sumenep) masih didominasi oleh pelaksanaan pendidikan dan pembelajaran yang konvensional. Mengapa hal itu dapat terjadi? Di satu sisi, institusi pendidikan dan masyarakat kurang mendukung pertumbuhan wirausahawan. Di sisi lain, banyak kebijakan pemerintah yang tidak dapat mendorong semangat kerja masyarakat, misalkan kebijakan harga maksimum beras, maupun subsidi yang berlebihan yang tidak mendidik perilaku ekonomi masyarakat.
Sejalan dengan kurangnya wirausahawan di negara kita di tambah lagi daerah-daerah di tiap kabupaten, pada kesempatan ini kita akan mencoba untuk menemukan model hipotetis yang mungkin dapat diterapkan pada program pendidikan bisnis melalui pembelajaran yang menumbuhkan sekaligus mengembangkan sikap positif terhadap wirausahawan, dengan harapan bahwa di kemudian hari banyak tumbuh wirausahawan baru yang dapat mendukung program pembangunan ekonomi di Indonesia. Dengan catatan, bahwa kebijakan pemerintah diasumsikan dapat menunjang kebijakan pendidikan wirausahawan.
Melihat kondisi tersebut, maka dunia pendidikan harus mampu berperan aktif menyiapkan sumberdaya manusia (SDM) terdidik yang mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan, baik lokal, regional, nasional, dan internasional. Tidak cukup hanya menguasi teori-teori, tetapi juga mau dan mampu menerapkan dalam kehidupan sosial. Tidak cukup ilmu yang diperoleh dari bangku sekolah, tetapi mampu memecahkan sebuah persoalan dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan yang demikian adalah pendidikan yang berorientasi pada pembentukan jiwa entrepreneurship. Yaitu jiwa keberanian dan atau kemauan dalam menghadapi problematika kehidupan, jiwa analitis dan kreatif serta inovatif dalam memberikan solusi dalam mengatasi problematika tersebut. Jiwa entrepreneurship yang perlu dilakukan adalah melalui pendidikan berbasis sekolah yang menjadikan sekolah sebagai tempat kerja dengan pembelajaran berbasi pekerjaan melalui kurikulum yang terintegrasi yang dikembangkan di sekolah[5].
Banyak sosiolog dan psikolog memberi batasan bahwa sikap merupakan kecenderungan individu untuk merespon dengan cara yang khusus terhadap stimulus yang ada dalam lingkungan sosial. Sikap merupakan suatu kecenderungan untuk mendekat atau menghindar, posotitif atau negatif terhadap berbagai keadaan sosial, apakah itu institusi, pribadi, situasi, ide, konsep dan sebagainya[6].
Sikap merupakan suatu keadaan internal yang mempengaruhi tidakan individu terhadap beberapa obyek, pribadi, dan peristiwa. Sebenarnya masih banyak lagi definisi sikap yang lain, akan tetapi keragaman pengertian tersebut disebabkan oleh sudut pandang dari penulis yang berbeda. Namun demikian, jika dicermati hampir semua batasan sikap memiliki kesamaan padang, bahwa sikap merupakan suatu keadaan internal atau keadaan yang masih ada dalam dari manusia. Keadaan internal tersebut berupa keyakinan yang diperoleh dari proses akomodasi dan asimilasi pengetahuan yang mereka dapatkan, sebagaimana pendapat George[7] tentang adaptasi. Kesadaran diri inilah yang mempengaruhi respon pribadi terhadap obyek dan lingkungan sosialnya. Jika kita sadar bahwa membunuh adalah perbuatan dosa, maka ada kecenderungan dalam diri kita untuk menghindar dari perbuatan membunuh atau menghidar dari lingkungan pembunuh. Jika seseorang menyadari bahwa ringan tangan itu baik, maka mereka merespon positif terhadap para ringan tangan, dan bahkan mungkin ia akan menjadi seorang ringan tangan bila memperoleh rizki banyak.
Sekilas, di atas terlihat bahwa antara sikap dan perilaku ada kesamaan. Oleh karena itu, psikolog sosial, seperti, George, Howard dan Kendler, dan dkk., mengatakan bahwa antara sikap dan perilaku adalah konsisten. Apakah selalu bahwa sikap konsisten dengan perilaku? Sebenarnya, sikap adalah konsisten dengan perilaku, akan tetapi karena banyaknya faktor yang mempengaruhi perilaku, mungkin sikap tidak konsisten dengan perilaku. Dalam keadaan yang demikian terjadi adanya desonansi nilai.
Para psikolog, di antaranya, George Howard dan Kendler, mengatakan bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan hereditas. Faktor lingkungan yang mempengaruhi perilaku adalah beragam, di antaranya pendidikan, nilai dan budaya masyarakat, politik, dan sebagainya. Sedang faktor hereditas merupakan faktor bawaan seseorang yang berupa karunia pencipta alam semesta yang telah ada dalam diri manusia sejak lahir, yang banyak ditentukan oleh faktor genetik. Kedua faktor secara bersama-sama mempengaruhi perilaku manusia. Jika kita ingin menumbuhkan sikap, kita harus memadukan faktor bawaan berupa bakat dan faktor lingkungan pendidikan dan belajar. Pandangan ini sejalan dengan hukum konvergensi perkembangan yang menyeimbangkan antara faktor bawaan dengan faktor lingkungan, tanpa mengorbankan satu faktorpun.
Jika seorang pendidik menginginkan menumbuhkan sikap sasaran didik, seharusnya mengetahui bakat yang ada pada sasaran didik, keinginan sasaran didik, nilai dan pengetahuan yang seharusnya didapat sasaran didik, serta lingkungan lain yang kondusif bagi penumbuhan sikap mereka, termasuk lingkungan politik. Keadaan ini sulit dilakukan, tetapi harus diusahakan. Jika kita ingin pendidikan berkembang dan bermanfaat bagi masyarakat, maka kita tidak boleh diam. Apapun hasilnya, pendidik harus berusaha melakukan inovasi proses pendidikan. Perlu disadari, bahwa segala sesuatu membutuhkan proses yang cukup panjang untuk mencapai suatu keberhasilan.
Sudah menjadi kengerian tersendiri, bahwa sistem pendidikan kita (Indonesia) masih bersandar pada prinsip, teori, dan konsep behavioristik. Konsep dan teori terbut jika diaplikasikan dalam pendididikan kejuruan dan profesi, sudah tidak relevan lagi. Model pendidikan klasikal, seperti yang sekarang ini banyak diterapkan, berangkat dari konsep behavioristik, sulit untuk menumbuhkan sikap wirausaha. Pada masa pembangunan, seperti terjadi di negara kita pada saat ini, sangat membutuhkan tenaga wirausahawan untuk mempercepat laju pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan demikian, manakala kita masih mempertahankan model pendidikan behavioristik, kami yakin bahwa tidak akan mampu menumbuhkan wirausahawan yang menjadi pelaku pembangunan ekonomi nasional yang handal. Dengan demikian, perubahan sistem dan model pendidikan, khususnya dalam pendidikan bisnis, perlu dilakukan. Terutama mengarah pada pembelajaran kewirausahaan.
Secara umum, dalam berbagai referensi, sikap memiliki 3 komponen yakni: kognitif, afektif, dan Psikomotorik. Komponen kognitif merupakan aspek sikap yang berkenaan dengan penilaian individu terhadap obyek atau subyek. Informasi yang masuk ke dalam otak manusia, melalui proses analisis, sintesis, dan evaluasi akan menghasilkan nilai baru yang akan diakomodasi atau diasimilasikan dengan pengetahuan yang telah ada di dalam otak manusia. Nilai-nilai baru yang diyakini benar, baik, indah, dan sebagainya, pada akhirnya akan mempengaruhi emosi atau komponen afektif dari sikap individu. Oleh karena itu, komponen afektif dapat dikatakan sebagai perasaan (emosi) individu terhadap obyek atau subyek, yang sejalan dengan hasil penilaiannya. Sedang komponen psikomotorik bertindak berkenaan dengan keinginan individu untuk melakukan perbuatan sesuai dengan keyakinan dan keinginannya. Sikap seseorang terhadap suatu obyek atau subyek dapat positif atau negatif. Manifestasikan sikap terlihat dari tanggapan seseorang apakah ia menerima atau menolak, setuju atau tidak setuju terhadap obyek atau subyek.
Bagaimana sikap dapat ditumbuhkan? Seperti di atas dijelaskan, bahwa sikap dapat ditumbuhkan dan dikembangkan melalui proses belajar. Dalam proses belajar tidak terlepas dari proses komunikasi dimana terjadi proses transfer pengetahuan dan nilai. Jika sikap merupakan hasil belajar, maka kunci utama belajar sikap terletak pada proses kognisi dalam belajar siswa. serendah apapun tingkatan proses kognisi siswa dapat mempengaruhi sikap. Namun demikian, tingkatan kognisi yang rendah mungkin saja dapat mempengaruhi sikap, tetapi sangat lemah pengaruhnya dan sikap cenderung labil. Kami yakin, bahwa proses kognisi yang dapat menumbuhkan dan mengembangkan sikap secara signifikan. Pada taraf inilah memungkinkan sasaran didik memperoleh nilai-nilai kehidupan yang dapat menumbuhkan keyakinan yang merupakan kunci utama untuk menumbuhkan dan mengembangkan sikap. Melalui proses akomodasi dan asimilasi pengetahuan, pengalaman, dan nilai ke dalam otak sasaran didik, seperti pendapat Pieget, pada gilirannya akan menjadi referensi dalam menanggapi obyek atau subyek di lingkungannya.
Pertanyaan yang muncul, apakah semua informasi dapat mempengaruhi sikap? Tidak semua informasi dapat mempengaruhi sikap. Informasi yang dapat mempengaruhi sikap sangat tergantung pada isi, sumber, dan media informasi yang bersangkutan. Dilihat dari segi isi informasi, bahwa informasi yang menumbuhkan dan mengembangkan sikap adalah berisi pesan yang bersifat persuasif. Dalam pengertian, pesan yang disampaikan dalam proses komunikasi haruslah memiliki kemampuan untuk mempengaruhi keyakinan sasaran didik, meskipun sebenarnya keyakinan tersebut akan didapat siswa sendiri melalui proses belajar. Seperti di atas telah disebutkan, bahwa untuk dapat memberikan pesan yang persuasif kepada sasaran didik haruslah dibawa pada obyek telaah melalui proses penganalisaan, pensintesisan, serta penilaian, yang dilakukan sasaran didik untuk memperoleh keyakinan. Langkah ini akan dapat berhasil manakala dilaksanaan secara individual, dan dibawa ke model belajar sambil bekerja yang selaras dengan motivasi, minat dan bakat sasaran didik. Dengan demikian, proses belajar-mengajar klasikal, misalkan dengan ceramah, efektivitas dalam menumbuhkan sikap perlu dipertanyakan.
Sumber informasi sangat berpengaruh pada penumbuhan sikap. Di samping informasi dari buku teks, mungkin juga dari fakta empirik, guru atau pendidik juga merupakan sumber belajar. Kualitas sumber informasi sangat berpengaruh pada penumbuhan keyakinan siswa. Karena itu kualitas informasi sangat menentukan perolehan pengalaman yang memandai, yang dibutuhkan untuk mengembangkan cakrawala pandang. Demikian juga fakta empirik, harus diberikan. Fakta empirik merupakan informasi sekaligus bahan belajar yang sangat berharga yang dapat dipelajari, dianalisis oleh siswa untuk memperoleh pengalaman dan untuk menambah keyakinan mereka. Di samping itu, guru juga memiliki peranan yang kuat dalam menumbuhkan sikap, karena gurulah yang berkomunikasi langsung dan sekaligus merupakan preferensi bagi siswa. Oleh karena itu, kualitas guru, baik dilihat dari kemampuan, keluasan wawasan, pengusaaan pengetahuan teoritis dan praktis diperlukan. Di sinilah peran guru sebagai fasilitator, inovator, motivator, dapat dimainkan. Dengan demikian, dalam model belajar yang diharapkan di sini membutuhkan keragaman sumber informasi. Dengan sumber informasi yang beragam siswa dapat menentukan pilihan yang sesuai dengan minat, motivasi, serta bakat mereka. Dengan cara inilah, siswa dapat menemukan sendiri pengetahuan dan informasi yang akan mereka gunakan untuk penganalisaan situasi dan fakta untuk mendapatkan nilai-nilai yang bermanfaat bagi hidupnya. Dengan cara inilah kemungkinan besar pendidikan dapat membawa ouputnya yang benar-benar memiliki keunggulan, inovatif, jika terjun dalam dunia kerja.
Sikap dapat tumbuh selama manusia hidup. Sepanjang hidupnya, manusia belajar tidak pernah berhenti. Proses akomodasi dan asimilasi pengetahuan, dan pengalaman, berlangsung sepanjang hidup manusia. Dalam proses yang panjang inilah nilai-nilai hidup didapatkan oleh manusia, yang kemungkinan besar akan dapat menumbuhkan sikap mereka terhadap subyek atau obyek. Periode kritis penumbuhan seseorang mungkin terjadi pada usia 14 tahun sampai 27 tahun, maka penumbuhan sikap yang paling tepat adalah usia Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), sampai dengan Perguruan Tinggi (PT), setelah itu sikap akan tumbuh melalui belajar dan pengalaman pribadi masing-masing. Perlu dipahami, bahwa dalam hidup belajar lebih banyak ditentukan oleh diri sendiri dari pada di bangku sekola Sudah menjadi kewajiban bagi sekolah untuk menumbuhkan sikap dasar yang bermanfaat bagi hidup sasaran didik. Di luar bangku sekolah, sikap akan dikembangkan sendiri oleh yang bersangkutan.
Jika kita sadar akan tanggung sebagai pendidik, dan menyadari usia yang memungkinkan sikap dapat ditumbuhkan, maka sudah seharusnya kita tidak menyia-nyiakan waktu tersebut untuk menumbuhkan sikap dasar siswa yang benar-benar ada manfaatnya bagi hidupnya maupun bagi bangsa dan negara.
Kendala penumbuhan sikap terjadi ketika ada benturan nilai yang diyakini seseorang dengan nilai yang berkembang di masyarakat. Semua institusi dalam masyarakat harus dapat menunjang pendidikan. Artinya, masyarakat secara menyeluruh harus memberikan dukungan terhadap proses pendidikan bisnis. Akan tetapi, dalam kenyataannya, di negara yang sedang berkembang seperti Indonesia, pendidikan bisnis mungkin mengalami hambatan sosio-budaya, seperti yang dikemukan oleh Jinghan[8].
Banyak ahli ekonomi yang mengatakan bahwa di negara sedang berkembang memiliki ciri yang mendua, di samping menganut faham ekonomi liberal juga menganut faham sosial (ekonomi campuran). Sifat mendua inilah yang merupakan kedala bagi kemajuan ekonomi negara dunia ketiga[9].
Nilai sosio-budaya feodal yang diwarisi dari penjajahan Belanda sangat kita rasakan pengaruhnya pada orang tua dan senior kita. Mereka sangat menyukai kemapanan dan alergi terhadap perubahan. Mereka lupa bahwa tanpa perubahan tidak akan ada perkembangan. Semuanya akan terlihat statis. Kondisi semacam ini telah diungkap oleh Todaro bahwa budaya dari penjajahan negara-negara Eropa sangat mempengaruhi pembangunan di negara dunia ke tiga, termasuk Indonesia[10]. Keinginan orang tua agar anak menjadi pegawai negeri merupakan bukti konkrit bahwa budaya feodal yang merupakan warisan dari penjajah sebagai suatu kendala perkembangan bangsa kita. Mungkin saja anak memiliki jiwa dan sikap positif terhadap wirausaha, akan tetapi mungkin mengalami benturan nilai dengan orang tua, sehingga anak terpaksa menjadi pengawai negeri.
Sebuah Proses: Menuju Pendidikan Wirausahawan
Proses pendidikan tidak lepas dengan proses pembelajaran. Pembelajaran adalah suatu usaha bagaimana menciptakan kondisi belajar yang kondusif dan inovatif bagi peserta didik atau siswa. Dalam proses belajar-mengajar, sasaran utamanya adalah pada proses belajar sasaran didik atau siswa. Begitu juga, dalam sebuah buku yang di tulis oleh Bobbi De Porter dan Mike Hernacki[11], dalam pendidikan harus mengutamakan belajar siswa secara aktif.
Perlu disadari, untuk menumbuhkan pendidikan wirausahawan, ada beberapa langkah yang harus dilakukan antara lain: Pertama, mengetahui tujuan belajar siswa. Dalam proses pendidikan harus memiliki pengertian bahwa pendidikan hakiki melayani keinginan dan kebutuhan siswa.
Oleh sebab itu, dalam proses belajar-mengajar harus memiliki karakteristik dalam melayani keinginan dan kebutuhan siswa, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa maupun bukan transformasi pengetahuan menurut selera sekolah. Apabila materi yang dipelajari siswa dan beraplikasi pada kehidupan sehari-hari, maka akan dapat membangkitkan daya kreatifitas berpikir siswa, memotivasi, dan gairah belajar siswa. Dengan demikian, walaupun hasil belajar bukan merupakan sasaran sakral pendidikan seperti yang dikatakan Prof Iwan Tri Yuwono[12], sudah seharusnya bahwa keberhasilan belajar diketahui. Oleh sebab itu, orientasi dari langkah pertama adalah hasil belajar siswa, yakni dapat menjadi pribadi yang mereka inginkan dengan tetap mengimplementasikan proses sebagai pintu awal dalam proses belajar-mengajar.
Kedua, mengetahui kesiapan siswa baik ilmu pengetahuan dan mental. Kesiapan di sini perlu diketahui untuk dasar penentuan strategi maupun material yang bobot dan relevansinya sesuai dengan kesiapan yang ada pada diri siswa. Dengan demikian, kita dapat memberikan dorongan dan rangsangan belajar sesuai dengan potensi yang ada di dalam diri siswa. Menurut konsepsi ini, seharusnya penyelesaian pendidikan oleh setiap individu siswa tidak selalu dapat bersamaan, tergantung pada kemampuan dan kesungguhan belajar mereka.
Ketiga, mengetahui bakat siswa. Bakat perlu diketahui. Anak berbakat menurut Utami Munandar adalah mereka yang diidentifikasi sebagai anak yang mampu mencapai prestasi yang tinggi karena mempunyai kemampuan yang unggul. Bakat seseorang amat bervariasi, oleh karena itu perlu dicari agar dapat dikembangkan dan bermanfaat dalam kehidupan. Dengan mengawinkan bakat dan pengetahuan yang akan dipelajari siswa, akan lebih mendorong siswa untuk belajar lebih giat sehingga optimasi hasil belajar siswa dapat dicapai. Selanjutnya, pengetahuan tentang minat, motivasi atau tujuan belajar, bakat, kemampuan, keahlian dan kesiapan siswa sangat membantu pendidik untuk merancang materi dan strategi belajar dan mengajar.
Sebagai tambahan, jika minat, motivasi, tujuan belajar, keahlian dan kemampuan siswa diketahui secara individual, dimungkinkan akan tercipta kelas homogin. Penciptaan kelas homogin ini penting untuk memudahkan penciptaan suasana, prasarana, dan perlakuan dalam proses belajar-mengajar. Akan tetapi, jika kelas heterogin, mungkin akan menimbulkan sedikit kendala dalam proses belajar-mengajar.
Keempat, menentukan strategi belajar dan pembelajaran. Penentuan strategi pembelajaran, jika kita sepakat dengan asumsi bahwa potensi, kebutuhan, dan minat belajar setiap individu berbeda, maka strategi yang tepat adalah mengutamakan pada belajar mandiri, meskipun model tutorial yang juga dibutuhkan. Tutorial dibutuhkan hanya untuk memberikan kerangka dasar pemikiran dan pengetahuan dasar yang dibutuhkan siswa. Selanjutnya, penggunaan metode inkuri dan discoveri, serta problem solving lebih diutamakan. Hal ini dapat untuk menumbuhkan sikap ulet, tekun, terbiasa mencari solusi, berani mengambil risiko, mengetahui dunia nayta yang serba tidak menentu, terbiasa menghadapi perubahan fenomena-fenomena yang terjadi dan menemukan peluang dari perubahan fenomena tersebut, dan sebagainya, yang kesemuanya dibutuhkan bagi seorang wirausahawan. Dengan demikian model pembelajaran yang ditawarkan adalah, bahwa siswa lebih banyak dihadapkan pada permasalahan baik secara teoritis maupun secara empiristis, agar mereka mencari solusi paling konkret, walaupun resiko cukup besar. Risiko yang besar sering memberikan peluang untuk mendapatkan keuntungan yang besar. Kiat-kiat hidup semacam ini yang harus ditanamkan kepada sasaran didik (siswa) untuk menumbuhkan sikap positif terhadap kewirausahaan.
Pembelajaran berbasis sekolah menjadikan sekolah sebagai tempat kerja, bukan perusaan atau industri. Pembelajaran ini berbasis pekerjaan. Usaha yang dikelola dan dijalankan siswa di sekolah bukanlah simulasi. Usaha tersebut nyata dan secara ekonomi harus bertahan hidup.
Pembelajaran pekerjaan merupakan awal mengikisnya masyarakat kita menjadi pengangguran, sekaligus terangkatnya kemiskinan. Sebagai pengalaman pembelajaran berbasis pekerjaan hanya di tujukan agar siswa tahu bagaimana orang dewasa bekerja untuk mendapatkan penghasilan[13]. Tujuan yang lain adalah untuk mengajarakan mata pelajaran akademik yang berat dan keterampilan-keterampilan yang berhubungan dengan karir seperti, keterampilan berbicara, menulis, pemikiran kritis, dan membuat keputusan. Beberapa jenis pembelajaran pekerjaan[14], antara lain:
Pertama, kunjungan (darmawisata). Dalam hal ini, sekelompok siswa menghabiskan 1 atau 2 jam mengunjungi tempat kerja untuk melihat bagaimana pekerjaan dilaksanakan.
Kedua, membayangi pekerjaan. Selama 2 jam samapai beberapa hari. Seorang siswa dipasangkan dengan seorang pegawai. Sedikit sekali siswa yang tahu bagaimana sebuah bisnis atau industri dijalankan. Membayangi pekerjaan membantu meraka mengetahui apa yang terjadi di dunia bisnis, termasuk bagaimana seharusnya sikap seorang pegawai di perusahaan. Kadang-kadang pegawai di perusahaan yang bersangkutan dan guru para siswa bertemu dan berunding untuk merencanakan sasaran pembelajaran yang akan didapatkan para siswa dari program ini.
Ketiga, Kerja praktik. Para siswa menyibukkan diri di tempat kerja selama 2 minggu atau lebih. Mereka belajar langsung dari pengalaman keraja yang terencana tentang bisnis atau industri. Sebagai contoh seorang siswa kelas 12 magang dirumah sakit. Ia memandiakan, menerima panggilan pasien, bergiliran jaga di semua bagian di rumah sakit, dan dari pengalaman ini ia bisa menyimpulkan apakah ia ingin menjadi seorang dokter. Tujuan kerja praktik bisa berupa mengetahui tugas-tugas khusus yang dilakukan pegawai selain keterampilan pribadi dan pengetahuan akademik yang harus mereka miliki agar dapat menjalankan pekerjaan mereka dengan baik[15].
Program magang: program magang memberikan pelatiahan keterampilan kerja dengan cara menggabungkan pembelajaran di kelas dengan pelatihan di tempat kerja. Magang memperkukuh pelajaran akademik yang diterima siswa . program magang ini disponsori oleh pemimpin perusahaan (misalnya), sekelompok pemimpin perusahaan, atau oleh komite program magang tenaga kerja. Para siswa dan pegawai bekerja bersama untuk menggabungkan materi akademik dengan stsndar keterampilan industri untuk menciptakan pengalaman belajar yang luas bagi siswa (northwest Regional Education Laboratory, 1996)[16].
Dari sekolah menuju karir: jalur karir adalah pengalaman kerja terstruktur yang menyatukan pelajaran di kelas dengan pekerjaan. Jalur karir memadukan kurikulum sekolah dan pengalaman kerja menjadi program yang rapi dengan tujuan yang jelas. Didesain sebagai alternatif bagi lingkungan yang memberikan banyak tawaran, tetapi dengan tujuan yang jelas. Jalur karir memberikan para siswa alasan penting untuk mempelajari mata pelajaran akademik dan memperoleh keterampilan pribadi. Teori dan praktek diramu dengan menempatkan ruang kelas dalam konteks dunia nyata (Office of Professional Technical Education, 1997)[17].
Banyak sekolah menengah atas di Amerika Serikat diatur dengan cara membagi institusi utama menjadi lingkungan belajar terpisah. Ada lingkungan sekolah, lingkungan rumah, dan lingkungan berupa jalur sekolah ke-karir.
Dari kesemua lingkkungan belajar tersebut, jalur yang paling mendapat pengakuan yang luas adalah sekolah ke-karir. Jalur ini merupakan sebuah area yang berisi berbagai pilihan karir yang spesifik. Ilmu pengetahuan alam, teknik, kesehatan, komunikasi, pendidikan dan bisnis merupakan jalur yang cukup dikenal. Di negara-negara tetangga yang mewajibkan adanya jalur karir, beberapa diantara meminta sekolah-sekolah untuk menawarkan jalur yang spesifik, dan yang lain hanya merekomendasikan. Sastra dan komunikasi, pelayanan kesehatan, sistem industri dan teknik, bisnis dan manajemen, sumber daya manusia, dan sistem daya alam merupkan jalur yang disarankan oleh Departemen Pendidikan Oregon. Sekolah-sekolah boleh menggunakan satu jalur atau lebih, atau mereka boleh menggunakan jalur tersebut dengan cara mereka sendiri[18].
Memilih sebuah jalur merupakan perjalanan-perjalanan yang berhubungan dengan pemanfaatan peluang dalam kerja tertentu, memungkinkan mereka mampu bersosialisasi pada lingkungan yang memberikan mereka sebuah pengertian penempatan kerja sebuah ilmu yang dapat mereka peroleh. sebagai contoh, misalnya, siswa mengambil mata pelajaran yang berhubungan dengan jalur karir mereka. Siswa tersebut belajar di tempat kerja dan juga di kelas.
Pembelajaran tersebut mengisyaratkan agar saat berada di tempat kerja, siswa mendapatkan pengalaman belajar yang penuh bermakna. Pengalaman tersebut memotivasi mereka untuk mencapai standar akademik yang tinggi, melakukan penilaian atas tugas-tugas yang mereka kerjakan dengan sungguh-sungguh dan mampu mempertunjukkan keterampilan tinggkat tinggi yang berhubungan dengan karir yang mereka pilih seperti pemikiran kritis, kreatif, berkolaborasi, inovatif dan mau menerima sara penasihat. Pada saat mereka siswa belajar di tempat kerja, secara tidak langsung mereka menemukan minat mereka sendiri, mengetahui bagaimana mereka mengerjakan dengan baik, dan mampu mencapai standar tinggi yang dapat membuka pintu keperguruan tinggi atau sebuah pekerjaan yang menjanjikan.
Sebuah contoh lagi, sekolah menengah atas bekerja sama dengan para pengusaha (jurusan IPS) setempat, menyediakan sebuah jalur karir yang barharga bagi para siswa. Untuk mendisain sebuah pembelajaran karir, para pengajar atau pendidik bertemu dengan pemilik pengusaha tersebut untuk menentukan apa yang harus diketahui dan apa yang harus bisa dilakukan oleh para siswa. Pemilik pengusaha mengajarkan sandar yang berlaku di tempat kerja pada para pendidik, termasuk bagaimana cara mereka melayani konsumen dan semacamnya. Para guru juga sebaliknya mengajarakan kepada pemimpin pengusaha mengenai teknik memberikan materi kepada para siswa sekaligus membantu mereka memahami standar akademik yang harus dipenuhi. Bersama-sama mereka bisa menentukan janis-jenis pekerjaan yang sesuai dengan semua siswa, termasuk para siswa dengan kebutuhan khusus.
Para siswa yang berhasil dengan baik di jalur pekerjaan tersebut setelah memasuki tempat kerja akan memberikan konteks belajar yang jelas dan serius. Jalur karir ini memberikan dorongan untuk memberikan standar akademik yang tinggi. Jalur ini dapat memberikan siswa alasan untuk mengubah perilaku. Hubungsn sekolah dan pekerjaan yang penuh makna mendorong pertumbuhan dan memberi kekuatan pada siswa sehingga mereka menjadi bergairah, menjadi kontributor yang dapat mengarahkan diri sendiri bagi pertumbuhan dan pengembangan dari sendiri.
Tentunya penting bagi pendidikan kita, bagaimana seharunya dunia pendidikan mampu memberikan ruang lingkup pembelajaran yang spesifik, sehingga nantinya mereka mempunya peluang untuk bekerja.
Menggabungkan sekolah dan pekerjaan merupakan keterkaitan pembelajaran untuk menemukan makna, meningkatkan pengatahuan dan memeperdalam wawasan. Lebih jauh lagi, untuk membangun hubungan memungkinkan kita mempengaruhi konteks pembelajaran yaitu, dunia tempat tinggal kita. Seperti apakah konteks ini? Haruskan pembelajaran ini menoleransi kesalahan, mendorong keberanian untuk mengambil resiko, dan menghargai inisiatif? Haruskah membangun hubungan sekolah dan pekerjaan menekankan pada keterbukaan dan integritas? Haruskah membangun hubungan tersebut berarti mengormati segala macam perbedaan? Siswa yang mengaitkan pelajaran dengan dunia mereka sehari-hari menjadi siswa dinamis. Mereka bereda dalam posisi untuk menanyakan pertanyaan-petanyaan yang bermutu dan menjawabnya dengan cara yang dapat mengubah dunia mereka.
Seperti yang dinyatakan Elaine; Siswa yang mengaitkan pelajaran dengan dunia mereka sehari-hari menjadi siswa yang kretif dinamis. Mereka berada dalam posisi untuk menanyakaan pertnyaan-pertanyaan yang bermutu dan menjawabnya dengan cara yang dapat mengubah dunia mereka. Memberikan bekal ilmu yang dapat menciptakan sebuah peluang yang berarti dalam kehidupan sehari-hari.[19]
Pengajaran dan pembelajaran kontektual didasarkan pada pengetahuan bahwa menghubungkan merupakan kegiatan alamiah manusia. Tepatnya, hal itu disebabkan oleh model pembelajaran yang sesuai dengan fungsi otak dan prinsip-prinsip alam. Oleh sebab itu pembelajaran menggabungkan sekolah dan pekerjaan adalah suatu cara yang tepat untuk mempersiapkan para pemuda penerus bangsa kita dalam menghadapi tantangan-tantangan era informasi, perubahan instansi, dan kehadiran teknologi di mana-mana. Mehubungkan sekolah dan pekerjaan membantu semua siswa mencapai standar akademik tinggi yang pada akhirnya mereka dapat memperoleh peluang pekerjaan. Menghubungkan sekolah dan pekerjaan juga mempersiapkan mereka untuk menimbang akibat dari keputusan-keputusan mereka terhadap orang lain dan alam yang artinya mereka tahu bagaimana sorang dewasa menghadapi hidup dalam keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara.
1. Anon. 1999 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU RI No. 2, 1989) dan Peraturan Pelaksanaanya. Jakarta : Sinar Grafika.
2. Azwar, Saifuddin, Drs., MA. 2002 Sikap Manusia : Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
3. Degeng, I Nyoman S., Prof. Dr, MPd. 2001. Kumpulan Bahan Pembelajaran. Malang : LP3-UM.
4. DePorter, Bobbi dan Mike Hernacki. 2002. Quantum Learning. Bandung : Kaifa.
5. Dr. C. George Broeree. 2006. Dasar-dasar Psikologi. Jogjakarta: AR_Ruzz Media.
6. Gray K & Herr E. L. 1995. Other Ways To Win: Creating Alternative For High School Graduates. Corwin Press Inc:California.
7. Jinghan, ML, 1999. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
8. Johnson, B Elaine, PH. D.2007. Contextual Teaching and Learning: Menjadikan Kegiatan Belajar-Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna (terjemahan). Jakarta: Mizan Learning Center (MLC).
9. Kendler, Howard H., 1974. Basic Psychology. Philipines : Benyamin/Cummings.
10.Todaro, Michael P, 1999. Ekonomi Pembangunan di Dunia ketiga. Jakarta: Erlangga.
[1] Sistem pendidikan, perubahan kurikulum, dan sertifikasi guru menjadi hal yang sangat substansial. Perlu adanya sebuah dekonstruksi pendidikan untuk memperoleh pencerahan dalam dunia pendidikan. Para praktisi merasa yakin ketiga tersbut merupakan langkah awal dalam mencapai paradigma pendidikan yang lebih baik. Dalam wacana pendidikan sistem pendidikan merupakan penentu dalam pembelajaran, tidak heran kurikulum dan sertifikasi ikut mendukung pada kiprah pembelajaran dan menjadi pelaksana pada sistem pendidikan banngsa Indonesia. Lht, DR. Dedi cahyono, Ph.D, Membangun Pendidikan Menemukan Makna: Sebuah Pengajaran dan Pembelajaran kontekstual, MPA/2005
[2] Dalam hal ini pekerja diartikan bukan sebagai tenaga kasar (tokang soro: dalam bahasa madura), akan tetapi seseorang atau masyarakat yang mempunyai pekerjaan baik itu sebagai pegawai negeri, anggota legeslatif, maupun sebagai pengusaha serta sebagai seorang seniman, pengraji, pelikis, penulis dan lain sebagainya. Dalam pandangan mereka, mungkin pekerja adalah seseorang yang memiliki strata sosial yang cukup tinggi dan disegani oleh warga masyarakat. Nah, baik pendidik sendiri, institusi pendidikan, prektisi bidang pendidikan, maupun masyarakat sebenaranya memiliki harapan yang sama terhadap output pendidikan.
[5] Sebagai Contoh, SMKN 3 Pamekasan yang menerjunkan anak didiknya dalam dunia kerja (perdagangan, perindustrian, pariwisata, dan perbankan). Disarikan dalam acara kopi pagi, RRI Sumenep, Rabu , 2 April 2008, Pukul: 07:30-08:30 WIB.
[6] Howard dan Kendler, Basic Psychology, (Philipines : Benyamin/Cummings, 1974). hal 58
[7] Dr. C. George Broeree. Dasar-dasar Psikologi.( Jogjakarta: AR_RUZZ MEDIA,2006). Hlm 18
[8] Jinghan, ML, Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan.(Jakarta: Raja Grafindo Persada,1999). Hlm 13-14
[9] Todaro, Ekonomi Pembangunan di Dunia ketiga.(Jakarta:Erlangga,1999). Hlm 24
[10] Ibid. Hal 25
[11] Bobi DePorter dan Mike Hernacki, Quantum Learning (Bandung:Kaifa, 2002). hlm. 23
[12] Prof Iwan Tri Yuwono, orasi ilmiah dalam Dies Natalis Universitas Unijoyo, 2007 lembar 1. sistem pendidikan harus berorientasi pada proses.
[13] Misalnya pada SMKN 3 Pamekasan yang menerjunkan anak didiknya dalam dunia kerja. RRI Sumenep dalam acara kopi pagi, Rabu , 2 April 2008, Pukul: 07:30-08:30 WIB.
[14] Elaine B. Johnson, PH. D. Contextual Teaching and Learning.(Bandung:MLC,2007)hlm 124-125
[15] Margulis dan Saga, hh. 96, 192. untuk lebih mengetahui mengenai deferansiasi, lihat juga Swimme dan Berry, hh. 73-74.
[16] Lihat catatan kaki. Elaine B. Johnson, PH. D. ibid. hal 125.
[17] Gray K & Herr E. L.Other Ways To Win: Creating Alternative For High School Graduates.(Corwin Press Inc:California, 1995) hal 98-121. lihat juga, Ibid hal 120
[18] Elaine B. Johnson, PH. D. Loc Cit. hal. 126
[19] Loc Out. hlm 148